Memahami kaidah pantun


Tema : Kaidah Pantun

Pertemuan Ke-13

Narasumber : Miftahul Hadi, S.Pd.

Moderator : Dail Ma'ruf, M.Pd.

Kebetulan untuk hari ini didalam pembuatan resume, saya sedang dalam perjelanan menuju Delta Sidoarjo namun semangatnya belajar mengalahkan rasa lelah dalam perjalanan.

Sebelum dimulai pertemuan kali ini, sempat terpikirkan saat pertemuan yang sudah terlewati, akankah ada tema yang membahas pantun, dan ternyata luar biasa materi pantun disajikan dalam pertemuan Ke-13, Alhamdulillah akan banyak sekali pastinya ilmu yang didapatkan.

Sekilas Biodata tentang pemateri hari ini

Pertemuan kali ini di buka dengan berbalas pantun oleh Narasumber dan Moderator, yang tentu saja pertemuan kali ini berbeda, inilah salah satu contoh pembuka pantun.

Bunga sekuntum tumbuh di taman,

Daun salam elok mahkota,

Assalamualaikum saya ucapkan,

Sebagai salam pembuka kata.

Menanam padi di musim hujan

Dan beberapa detikpun berlalu, hingga dibalaslah pantun pembuka dengan pantun lagi, mari simak contoh pantunnya, sebelum materi di mulai.

Menanam padi di musim hujan

Padi ditanam berharap panen

Mari belajar bareng mas hadi kawan

Semoga semuanya berkenan

------------------------------------------------------------

Sebelum memulai materi, beliau mengajak kita untuk menjawab, apa itu pantun?, para peserta sangat antusias memberikan jawabannya, begitupun saya.


Jadi pantun adalah salah satu karya sastra, serta tiap daerah memiliki ciri khas pantun contoh halnya di daerah, Tapanuli, pantun dikenal dengan istilah ende-ende sedangkan di Sunda, pantun dikenal dengan istilah paparikan dan di Jawa, pantun dikenal dengan istilah parikan (Suseno, 2006).

Beliaupun menyinggung bahwa pantun telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda  pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis pada tahun 2020.

Pada hakikatnya, sebagian besar kesusastraan tradisional Indonesia membentuk pondasi dasar pertunjukan genre campuran yang sangat kompleks, seperti "randai" dari Minangkabau wilayah Sumatra Barat, yang mencampur antara seni musik, seni tarian, seni drama, dan seni bela diri dalam perpaduan seremonial yang spektakuler.

Sedangkan untuk memahami makna Pantun menurut Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) berasal dari kata “Pan” yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata “Tun” yang merujuk pada sifat santun. Kata “Tun” dapat diartikan juga sebagai pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019).

Pantun sendiripun memiliki banyak sekali manfaat diantaranya, pantun itu bisa digunakan untuk komunikasi sehari-hari pada zaman dahulu, Pantun bisa juga digunakan untuk mengawali sambutan pidato, atau bisa di gunakan juga untuk lirik lagu, perkenalan, ataupun didalam dakwah bisa disisipi pantun, didalam Pantun juga dapat melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar, jadi pada jaman dahulu hingga saat ini pantun selalu eksis menjadi icon pembuka atau penutup dalam acara formal atau informal.

Perlu di ingat dalam penulisan pantun sebagai berikut :

- 1 bait pantun terdiri atas empat baris

- Didalam satu baris itu idealnya terdiri atas empat sampai lima kata.

- Satu baris pantun terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata.

- Tiap baris terdiri dari Delapan sampai dua belas suku kata.

- Baris pertama dan kedua disebut sampiran

- Baris ketiga dan keempat disebut isi

Dalam penulisan pantun bisa juga dengan menggunakan sajak a-a-a-a, namun menurut beliau ketika menulis pantun dengan metode tersebut akan mengurangi keindahan pantun itu sendiri.

Ada juga Pantun dua baris disebut dengan pantun berbentuk karmina atau pantun kilat. Namun berisi pantunnya, untuk lebih jelasnya beliaupun memberikan contohnya, 

Sudah gaharu Cendana pula,

Sudah tahu bertanya pula.

Untuk memhami perbedaan tentang  bedanya pantun, syair, gurindam dengan karmina. Syair, hampir sama seperti pantun. Terdiri atas empat baris. Memiliki sajak a-a-a-a. Baris satu sampai empat memiliki hubungan/saling berkaitan, dan didalam syair biasanya diksinya menyimpan makna yang sangat dalam, mari kita simak Salah satu contoh syair sebagai berikut :

Inilah kisah bermula kawan

Tentang negeri elok rupawan

Menjadi rebutan haparan jajahan

Hidup mati pahlawan memperjuangkan

Engkau telah mafhum kawan

Penggenggam bambu runcing ditangan

Pemeluk tetes darah penghabisan

Syahdan, Tuhan karuniai kemerdekaan.

Materi malam ini sangat banyak sekali mengenai pantun, dan disinggung juga sedikit perbedaan tentang syair, semoga resume kali ini bermanfaat.


Sidoarjo, 2023








 

Comments

  1. Resume materi 13 yang Bagus, lengkap dan informatif --- kren luar biasa. pertahankan dan semangat

    ReplyDelete
  2. Kain katun halus halus diraba
    Buat pantun bikin hati gembira
    By. Kang Khasan.

    ReplyDelete

Post a Comment