Sawang-sinawang
Judul yang tepat untuk tulisan kali ini, sawang-sinawang mengutip dari kumparan.com bahwa didalam buku Narasi Negeri oleh Nurul Khotimah (2021), sawang Sinawang merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa “Sawang” yang artinya “Lihat atau Pandang”. Sekilas, maknanya sama dengan memandang antara satu dengan orang yang lain.
sawang sinawang sangat erat dalam kehidupan kita sehari-hari. Sering kali, orang merasa bahwa kehidupan orang lain terlihat lebih baik, entah dari segi kekayaan, tempat tinggal, kendaraan, hubungan, pekerjaan, atau yang lainnya.
Ibaratnya, rumput tetangga memang terlihat lebih subur dibanding rumput di rumah sendiri. Padahal, kita tidak pernah tahu bagaimana perjuangan orang tersebut hingga mampu berada di posisi yang demikian.
Begitupun juga dengan saat ini, banyak orang menyangka bahwa kehidupan saya lebih makmur, namun mereka lupa beberapa hal kala itu saya memilih terjun kedunia yang di fokuskan hari ini. Saya harus melepaskan gelar yang memang sejak duduk dibangku putih-abu, saya sangat mendambakan bahwa suatu saat di belakang nama saya akan tertulis gelar M.Hum.
Sawang-sinawang, disaat perkembangan mulai terlihat mereka mendekati dengan percaya diri tapi mereka menjauh disaat perkembangan ini merosot secara perlahan, sangat terlihat jelas bahwa sesungguhnya mereka menatap tajam bahwa perkembangan yang saya geluti berbeda. padahal, semua sama mau itu perkembangan meningkat atau sedang turun semua sama saja, hanya saja saya menutupi keutuhan kekurangan dan kenaikan karena itu adalah manajemen didalam pengelolaan.
Ada kerabat pagi itu datang menghampiri disaat saya sedang menikmati secangkir kopi hitam, ia menyapa terus bercerita, ia mengungkapkan bahwa perkembangan saya sangat pesat lebih baik dari pada dirinya, lantas saya memotong pembicaraan itu bukan tidak sopan, namun alangkah baik saya memotong dan meringkasnya dengan suatu kata sawang-sinawang.
Sehingga kerabat sayapun terkejut, karena pada dasarnya sayapun sama melihat beliau sangat makmur dalam manajemen hidup yang dijalani, mempunyai suatu rumah yang cukup besar untuk perumahaan di desa, memiliki satu buah mobil.
Jadi, teringat dengan sebuah catatan yang pernah di tulis pada saat memahami makna ketika waktu senja mulai berganti dengan gelap,
1. Jadilah seperti sungai ia selalu dermawan
2. Jadilah seperti matahari ia selalu tulus
3. Jadilah seperti malam ia selalu memaafkan
4. Jadilah seperti bumi ia selalu sederhana
5. Jadilah seperti laut ia selalu toleransi
6. Ketika sedang marah jadilah seperti mayat
Sadari diri, hiduplah dengan apa adanya, tulisan ini didapatkan saat memahami kata-kata Jalaludin Rumi.
Kesimpulan tentang tulisan kali ini bisa dikemas dengan kata kata sebagai berikut; diri kita adalah akibat dari apa yang sudah kita pikirkan. Disaat ingin mengubah situasi, pertama-tama anda harus mengubah pikiranmu, begitupun juga mengenai sawang sinawang.

Comments
Post a Comment